Beranda Cerita "Jujur Itu Indah"
"Jujur Itu Indah"

"Jujur Itu Indah"

D
Denik Patminarsih
· 24 Juni 2026 · 44 dibaca
Bagikan:
Pagi itu Ramdan bergegas merapikan buku dan alat tulis nya. Hari ini Ramdan kesiangan bangun. Lepas sahur tadi Ramdan terlelap tidur. “Sudah rapi semua Nak? Ayo sudah jam tujuh lebih lima belas. Ayah antar saja biar tidak terlalu lama telatnya. “ Ayah mengingat kan Ramdan untuk bergegas. Dengan tergesa-gesa Ramdan menyomot tas sekolahnya yang baru saja dia isi dengan buku pelajaran untuk hari ini. Sambil agak berlari dia juga merapikan seragamnya yang belum dirapikan. “Ibu … aku berangkat sekolah dulu ya,” jelas Ramdan sambil mencium punggung tangan ibunya. “Iya sayang, di sekolah belajar yang pintar ya, gak boleh nakal dan ingat apa pesan ibu,” jelas ibu Ramdan. Sambil berlari dia menghampiri ayahnya yang sudah di depan rumah menunggunya di atas motor sedari tadi. Ayah tersenyum melihat Ramdan berlari keluar rumah dari rumah. Motor melaju menuju sekolahan Ramdan. Sesampainya di depan pintu gerbang sekolah Ramdan bergegas mencium punggung tangan ayahnya sambil berbicara kepada ayahnya. “Ayah aku masuk kelas dulu, Assalamu’alaikum,” kata Ramdan. “Wa’alaikumsalam, iya Nak … belajar yang pintar ya, udah cepat sana masuk, dan bilang minta maaf sama ibu guru karena terlambat masuk kelas,” jelas Ayah. “Baik Ayah, daa … daa … Ayah, hati-hati kalau pulang,” teriak Ramdan sambal berlari menuju kelasnya. Sesampanya di kelas Ramdan mengetuk pintu kelas dan mengucapkan salam kepada guru kelas dan teman-temannya. “Assalamu’alaikum … pagi Bu Guru, pagi teman-teman semuanya. Maaf Bu Guru, pagi ini Ramdan terlambat masuk kelas,” jelas Ramdan. Sambil menatap gurunya, Ramdan dengan senyum malu-malu bercerita mengapa ia sampai terlambat masuk sekolah hari ini. “Begini ceritanya Bu Guru, setelah bangun untuk sahur tadi, Ramdan bersantai dan main hp di tempat tidur, mungkin karena kekenyangan saat sahur gak terasa Ramdan tertidur dan bangunnya kesiangan. Jadi saat bangun buru-buru mandi, merapikan kembali buku pelajaran untuk hari ini dan segera memakai seragam sekolah Bu Guru. Begitulah ceritanya kenapa Ramdan telat masuk sekolah pagi ini,” jelas Ramdan di depan kelas. Ibu guru tersenyum mendengar pejelasan dari Ramdan, karena dia jujur mengatakan apa yang ia lakukan tadi pagi, dan mengapa dia sampai terlambat masuk kelas. “Baiklah, kamu boleh duduk ke bangku mu sekarang. Dan ingat anak-anak , setelah selesai makan sahur sebainknya kita jangan tidur lagi ya. Karena tidak baik untuk kesehatan, selepas makan langsung tidur,” jelas Bu Guru. Setelah pelajaran usai, bel istirahat berbunyi. Hari ini bertepatan saat bulan Ramadhan, tapi koperasi sekolah tetap buka karena koperasi menyediakan keperluan untuk anak-anak, seperti alat tulis, perlengkapan seragam, snack dan juga minuman. Ramdan berlari ke koperasi sekolah. Dia tahu kalau sekarang bulan puasa, tapi karena tidak puasa dia jajan, akhirnya dia membeli sebotol minuman dingin dan snack. Dengan menoleh kanan dan kiri untuk mengetahui apakah keadaan sekitarnya aman, dia berlari ke ujung sekolahan. Di taman belakang koperasi, Ramdan duduk di sebuah bangku dan memulai aksinya, ia teguk sebotol minuman dingin dengan begitu antusiasnya. “Aahhhggg … segarnya minuman ini, aku haus banget dan lapar juga, padahal pas sahur tadi aku makannya banyak juga. Tapi kenapa aku masih lapar ya?” ungkap Ramdan sambil tersenyum menghabiskan sisa minuman dan makanan yang ia pegang. Setelah selesai semuanya, dia menghapus sisa-sisa makanan yang masih ada di mulutnya, agar tidak ada yang tahu kalau hari ini ia tidak puasa. Sambil tersenyum ia bergegas masuk ke kelasnya, karena bel masuk sudah berbunyi. Pelajaran sekolah berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Ramdan bergegas merapikan tas dan buku pelajarannya, setelah membaca doa pulang dan memberi salam, Ramdan berlari keluar kelas menuju mobil jemputan yang sudah berlangganan satiap harinya. Dia duduk di bangku paling depan berjejer dengan pak sopir. Jarak antara sekolah dan rumah Ramdan lumayan agak jauh, mungkin bisa di tempuh dengan waktu sekitar setengah jam. Mobil berhenti tepat di depan rumah Ramdan. Terlihat ibu Ramdan yang sedang menunggu kedatangannya. Dengan melambaikan tangan, ibu menyapa dan tersenyum kepada pak sopir yang telah mengantarkan Ramdan pulang dengan selamat sampai rumah. Di dalam rumah Ramdan bercerita tentang kegiatannya di sekolah tadi. Dari ia diantar sekolah sama Ayah, lalu ia minta maaf kepada Ibu Guru karena terlambat masuk kelas, juga saat pelajaran sampai pulang sekolah. Tapi ia tidak cerita kalau ia telah berbohong kepada ibunya karena ia tidak puasa, ia telah makan dan minum di koperasi sekolah tadi. Ia takut jika nanti ia bilang kepada ibunya, ia pasti akan kena marah karena tidak puasa hari ini. Ramdan hanya diam saja saat ibunya bilang, “Anak ibu pinter di sekolah dan bisa puasa penuh hari ini.” Hari telah menjelang senja. Ibu Ramdan sedang sibuk memasak untuk buka puasa bersama keluarga. Sedangkan ayah masih mandi karena baru datang dari kerja. Ramdan waktu itu masih fokus dengan acara TV. Ia sebenarnya sangat gelisah dengan apa yang ia lakukan. Ia takut karena sudah berbohong tentang puasanya kepada ibu. Dia begitu bingung, apakah harus berterus terang dengan ibu atau harus menutupi semuanya dan tidak berkata apa-apa perihal tidak puasanya hari ini. Adzan maghrib telah berkumandang, mereka langsung salat berjamaah. Ayah sebagai imam dalam salat itu. Selesai salat, Ayah menutupnya dengan doa. Dalam hati Ramdan, sekarang inilah waktu yang tepat untuk mengatakan apa yang menjadi pikirannya sedari tadi. Karena ia sudah tak sanggup lagi untuk berbohong kalau hari ini ia tidak puasa. Dengan mata sayup menahan air mata yang ingin jatuh, Ramdan mendekati ibunya. “Ibu … Ramdan ingin ngomong sesuatu sama ibu, tapi ibu janji ya jangan marahin Ramdan, bujuk Ramdan kepada ibunya.” “Ada apa sayang? Mengapa Ramdan bilang begitu sama ibu? Apa yang dilakukan Ramdan hari ini? Apakah Ramdan bikin ulahkah di sekolah tadi? Atau ada apa sayang, coba katakana sama ibu,” jelas ibu. Ramdan tak bisa lagi membendung air matanya, ia memeluk ibunya dan menangis sejadi-jadinya. Sambil masih terisak, Ramdan bicara kepada ibunya. “Ibu … maafkan Ramdan ya, hari ini saat jam istirahat di sekolah tadi Ramdan pergi ke koperasi sekolah. Di sana Ramdan beli makanan dan minuman. Aku gak kuat menahan haus dan lapar, karena berlari-lari saat terlambat masuk kelas tadi pagi. Jadi waktu istirahat aku makan dan minum di pojokan sekolah, agar tidak terlihat oleh siapapun. Maafkan Ramdan ya ibu, Ramdah sudah berbohong kepada ibu,” jelas Ramdan sambil terisak. Ibu tersenyum mendengar apa yang Ramdan ceritakan barusan. “Sudahlah sayang, ibu maklum kok, tapi lain hari tidak boleh berbuat seperti itu lagi ya sayang, karena itu tidak baik,” jelas ibu. “iya bu, Ramdan gak akan mengulanginya lagi, maafkan Ramdan ya ibu. “Iya sayang, udah ayo dihapus itu air matanya, malu dong udah gede kok cengeng. Akhirnya hati Ramdan merasa lega. Ia sudah menceritakan apa yang dia lakukan hari ini. _”Bersikap jujurlah, karena jujur akan melahirkan kepercayaan antara satu orang dengan yang lainnya”_ Karya : _Annisa Atsila_2024_
Kategori: Cerita

Diskusi

S
Sustiyaningsih 1 bulan yang lalu

Maa syaa Alloh bgus cerpennya ..ditunggu cerpen berikutnya ustdzh

A
Asti Windu 1 bulan yang lalu

Maasyaa Allah...keren