Beranda Pendidikan Tidak Ada Anak yang Bodoh
Tidak Ada Anak yang Bodoh

Tidak Ada Anak yang Bodoh

A
Asti Windu
· 19 Juni 2026 · 19 dibaca
Bagikan:
“Setiap Anak Adalah Amanah dengan Potensi yang Allah Ta’ala Titipkan” Suasana pembagian rapor di sebuah kelas Sekolah Dasar tampak ramai. Sebagian orang tua dan wali murid tersenyum bangga melihat nilai anaknya yang tinggi. Ada yang sibuk mengabadikan momen dengan kamera, ada pula yang memberikan pelukan hangat sebagai bentuk apresiasi. Namun.., di sudut ruangan, seorang anak hanya tertunduk. Tangannya menggenggam rapor yang berisi nilai-nilai yang belum memuaskan. Ia mendengar percakapan beberapa orang tua. "Lihat tuh, nilainya jelek semua." "Memang dari dulu anak itu agak bodoh." “Dia anak pemalas.” “Dia kebanyakan main HP.” .... Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menghujam begitu dalam ke hati seorang anak. Ia tidak menangis. Ia hanya sedih dan diam. Dalam diamnya, mulai tumbuh keyakinan bahwa dirinya memang tidak mampu, tidak berguna, dan bodoh. Padahal, boleh jadi yang ia butuhkan bukanlah label, melainkan waktu untuk berkembang. Bukan cemoohan atau ejekan, melainkan bimbingan. Bukan perbandingan, melainkan kasih sayang dan doa. Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia. Setiap anak adalah amanah yang Allah Ta'ala titipkan kepada kita dengan kelebihan, kekurangan, dan kemampuan yang berbeda-beda. Allah Ta'ala berfirman, ا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَاۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَࣖ ۝٢٨٦ "Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”(QS. Al-Baqarah: 286) Ayat ini mengajarkan bahwa setiap manusia telah diberikan kemampuan sesuai dengan kadar yang Allah tetapkan. Tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia. Setiap anak memiliki keistimewaan yang mungkin berbeda dengan anak lainnya. Sering kali kita mengukur kecerdasan dan kepandaian anak hanya dari nilai rapor atau hasil ujian. Padahal, bisa jadi seorang anak yang belum unggul dalam pelajaran akademik memiliki akhlak yang mulia, kepedulian yang tinggi, kemampuan memimpin, kreativitas, atau keterampilan lain yang sangat berharga. Semua itu adalah karunia dari Allah yang patut disyukuri dan dikembangkan. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita memperlakukan manusia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Anak-anak adalah amanah yang Allah titipkan kepada orang tua dan para pendidik. Tugas kita bukan memberi label yang menjatuhkan, melainkan membimbing mereka agar potensi yang Allah titipkan dapat tumbuh dengan baik. Setiap kata yang keluar dari lisan orang tua dan guru dapat menjadi doa atau justru menjadi luka. Ketika seorang anak terus-menerus mendengar dirinya disebut "bodoh", ia bisa kehilangan rasa percaya diri dan semangat untuk belajar. Sebaliknya, ketika ia didoakan, disemangati, dan dibimbing dengan sabar, insyaAllah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang yakin bahwa dirinya mampu berkembang. Allah Ta'ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۝١١ "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11) Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak meremehkan atau merendahkan orang lain, termasuk anak-anak. Bisa jadi anak yang hari ini tampak biasa saja, kelak menjadi pribadi yang saleh, berilmu, bermanfaat bagi umat, bahkan lebih mulia di sisi Allah daripada yang kita sangka. Marilah kita mengganti kalimat, "Anak ini bodoh," menjadi "Anak ini sedang bertumbuh dan belajar” atau “Anak ini sedang berproses.” Gantilah celaan dan hinaan dengan doa, kemarahan dengan kesabaran, dan penilaian dengan pendampingan. Karena sesungguhnya, setiap anak adalah amanah. Setiap anak memiliki cahaya yang Allah titipkan dalam dirinya. Tugas kita adalah membantu cahaya itu bersinar, bukan memadamkannya dengan label dan kata-kata yang menyakitkan. "Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada adalah anak yang sedang bertumbuh, menunggu ditemukan cara terbaik untuk belajar, dan menanti hadirnya orang-orang yang percaya bahwa Allah telah menitipkan potensi besar di dalam dirinya." Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita orang tua dan pendidik yang lembut hatinya, bijak lisannya, sabar dalam mendidik, serta mampu melihat potensi terbaik pada setiap anak. Aamiin. Note: "Kisah pada bagian pembuka merupakan ilustrasi yang sengaja saya susun untuk menggambarkan fenomena yang sering terjadi di lingkungan pendidikan."
Kategori: Pendidikan

Diskusi

Belum ada komentar.